Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2021

Puisi

                      Setangkai kepalsuan Tak habis habisnya kata kata ini, Untuk merangkaikan keindahanmu. Sejauh aku berjalan, bayanganmu selalu mengikuti. Entah kenapa aku tidak bisa melupakamu Yang nyatanya kita belum bersatu dalam ikatan cinta. Aku selalu terlena dalam pesonamu Hatiku terbunuh karna senyumanmu. Meskipun waktu tak berpihak kepadaku, Salahkah aku untuk mengagumimu? hanya itulah yang bisa aku lakukan. Diam dan penuh harap, Selalu bertentangan dengan realita... Engkau adalah bungaku... Yang memberikan hari-hariku penuh warna. Tapi sayang, engkau mekar kepada orang lain. Dan memberikan aku setangkai kepalsuan. Namun tak ada masalah bagiku,  Mungkin ini takdir Tuhan, Setidaknya engkau telah memberi sedikit aku warna kehidupan.

Puisi

                           Rintihan hujan menghibur sepiku, Namun membawa rindu yang mendalam. Dalam serpihan kenangan yang masih membekas, Susah untuk dilupakan yang kian menjadi beban. Kini aku hanya terpaku membisu, Mendengar alunan sendu yang diciptakan oleh hujan. Yang menitipkan dalam rintikan rindunya kepada bumi.

Puisi

Seiring berjalannya waktu, Bunga itu tumbuh dan bermekar. Tak salah lagi untukku kagumi Karna keindahannya yang menawar hati. Tapi sayang, keindahannya bukan untuk seseorang. Namun untuk semua orang yang melihatnnya. Kini aku terbunuh dalam rasa tidak percaya diri, Yang kian menyiksa sejarah kehidupanku. Sejenak ku mendengar perkataannya Yang menyuarakan, siapa yang rajin menyiraminya dialah yang berhak memetik bunga. Hatiku bergejolak untuk berjuang,  Pantaskah dengan senjata kebaikan dan kesetiaan akan menyiraminya? Ataukah dia membutuhkan fisik yang sempurna untuk bisa menyuburkannya? Hanya waktulah yang bisa menjawabnya. Dan sekarang, aku menuruti suara hati yang ingin tetap berjuang. Walaupun nantinya akan sia sia.