Postingan

Pusi

Hujan rintik-rintik membasahi bumi Mengingat rindu yang tak kunjung kembali Kini hanya kenangan yang ku tangisi  Drama cinta kita telah usai  Kau pergi membawa hati  Tanpa memikirkan aku disini  Tidakkah kau merasa bersalah Mencuri hatiku dan tidak mengembalikannya lagi  Sekarang kau berpaling dengan yang lain  Ku iklaskan semuanya itu  Semoga kau sadar akan ketulusan cinta ini
                  Februari Rindu Aku tak mampu mekukiskan gerimis rindu diwaktu itu. Yang menjebak aku dalam genggamannya. Februari mempertemukan kami dibalik tembok tinggi. Terjebak oleh hujan yang sengaja mendukung.. Dia datang bersama hujan dan menitikkan setitik rindu dalam dada.. Rintikan hujan menjadi alunan sendu menghangatkan suasana. Dan percikan air, membuat aku sadar, kita melangkah ke jejak yang sama.. Payung teduh mempersatukan kita dalam perjalanan pulang. Hingga menuju kepelaninan cinta...

Cerpen

 NAMA : Antonius Gatul NPM    : 20106016                   BENARKAH “DIAM ITU EMAS?”                                                     Karya: Antonius Gatul        Tidak ada yang tahu tentang hati seseorang. Memang kalau dikaitkan dengan cinta, susah sekali untuk ditebak. Sejak dulu, Aku selalu mengidam-idamkannya. Seperti bunga yang selalu mekar indah yang membuat bola mataku tertarik untuk melihatnya. Kami satu kampung, rumahnya tidak jauh dari rumahku. Seiring berjalannya waktu, perasaan ini pun ikut berjalan ke yang lebih besar terhadapnya. Mungkin ini kelihatan konyol, tapi aku selalu bingung, kenapa aku terus membayangkannya.  Memang, Dialah bunga desa yang aku cari. Bunga yang memberikan warna terhadap hidupku. Namun, kenapa hati ini tidak bersahabat dengan mulut, ya...

Puisi

                      Setangkai kepalsuan Tak habis habisnya kata kata ini, Untuk merangkaikan keindahanmu. Sejauh aku berjalan, bayanganmu selalu mengikuti. Entah kenapa aku tidak bisa melupakamu Yang nyatanya kita belum bersatu dalam ikatan cinta. Aku selalu terlena dalam pesonamu Hatiku terbunuh karna senyumanmu. Meskipun waktu tak berpihak kepadaku, Salahkah aku untuk mengagumimu? hanya itulah yang bisa aku lakukan. Diam dan penuh harap, Selalu bertentangan dengan realita... Engkau adalah bungaku... Yang memberikan hari-hariku penuh warna. Tapi sayang, engkau mekar kepada orang lain. Dan memberikan aku setangkai kepalsuan. Namun tak ada masalah bagiku,  Mungkin ini takdir Tuhan, Setidaknya engkau telah memberi sedikit aku warna kehidupan.

Puisi

                           Rintihan hujan menghibur sepiku, Namun membawa rindu yang mendalam. Dalam serpihan kenangan yang masih membekas, Susah untuk dilupakan yang kian menjadi beban. Kini aku hanya terpaku membisu, Mendengar alunan sendu yang diciptakan oleh hujan. Yang menitipkan dalam rintikan rindunya kepada bumi.

Puisi

Seiring berjalannya waktu, Bunga itu tumbuh dan bermekar. Tak salah lagi untukku kagumi Karna keindahannya yang menawar hati. Tapi sayang, keindahannya bukan untuk seseorang. Namun untuk semua orang yang melihatnnya. Kini aku terbunuh dalam rasa tidak percaya diri, Yang kian menyiksa sejarah kehidupanku. Sejenak ku mendengar perkataannya Yang menyuarakan, siapa yang rajin menyiraminya dialah yang berhak memetik bunga. Hatiku bergejolak untuk berjuang,  Pantaskah dengan senjata kebaikan dan kesetiaan akan menyiraminya? Ataukah dia membutuhkan fisik yang sempurna untuk bisa menyuburkannya? Hanya waktulah yang bisa menjawabnya. Dan sekarang, aku menuruti suara hati yang ingin tetap berjuang. Walaupun nantinya akan sia sia.